Tentang PT BOS-E Indonesia

Apa siapa PT BOS-E Indonesia?

PT BOS-E INDONESIA merupakan sebuah perusahaan yang fokus di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program peternakan-pertanian modern serta agensi produk-produk herbal.

BOS-E itu sendiri merupakan kependekan dari Business Opportunity Success – Enterpreneurship.

PT BOS-E Indonesia didirikan oleh Bpk Chairul Anam, SH.I (Direktur Utama PT HCS) dan dilaunching pada tanggal 1 Juli 2019 di Sidoarjo.

Latar Belakang Berdirinya PT BOS-E Indonesia

Petani Indonesia mulai mengenal pupuk kimia sejak tahun 1969. Saat itu pemerintahan Presiden Soeharto ingin negeri agraris ini bisa swasembada beras.

tentang pt bose indonesia
Direktur Utama PT BOS-E, Bapak Choirul Anam, SH.I dalam acara grand launching PT BOS-E Indonesia di Sidoarjo

Untuk tujuan itu semua harus diubah. Padi asli Indonesia yang umurnya 6 bulan harus diganti dengan Padi IR yang umurnya 3 bulan. Padi IR didatangkan dari Internatonal Rice Research Institute (IRRI) yang berpusat di Filipina. Benih padi dari IRRI itulah yang memunculkan sebutan Padi IR. Ada IR.6, IR,8 dan yang bertahan hingga kini adalah IR.64, karena rasa berasnya dianggap paling pas dengan lidah orang Indonesia.

Cara panen padi asli Indonesia dan padi Filipina juga beda. Padi Indonesia dipanen dengan alat yang disebut ani-ani. Dipetik satu-satu dari bulir tanaman padi yang tetap berdiri di sawah yang airnya telah dikeringkan. Padi itu kemudian diuntingi. Untuk menjadi beras, padi ditumbuk di lumpang. Sementara padi IR dipanen dengan cara dibabat, terus digepyok-gepyok di meja bambu agar gabahnya rontok. Gabah ini kemudian dibawa ke pabrik penggilingan padi atau tukang selep (rice huller).

Yang juga berubah adalah cara menanamnya. Sebelumnya petani Indonesia tidak kenal dengan pupuk kimia seperti Urea, ZA, KCl dan semacamnya. Petani cukup memupuk sawah dengan cara membenamkan tanaman padi dengan cara membajak. Kalau perlu ditambah pupuk kandang.

Indonesia memang sempat swasembada beras, yakni tahun 1989. Akan tetapi, dua tahun kemudian, tahun 1991 sampai sekarang Indonesia kembali harus impor beras.

Jika sejak 1969 sawah Indonesia kenal pupuk kimia, itu berarti di tahun 2019 ini genap 50 tahun bumi Indonesia sudah diracuni. Tanpa sadar petani bunuh diri, karena sudah merusak lahan tempatnya mencari nafkah dengan bahan-bahan kimia.

Yang dirasakan petani, kenapa ya dari tahun ke tahun produksi lahan pertaniannya terus menurun? Petani tidak tahu jawabannya. Buktinya terus saja dia memupuk sawahnya dengan pupuk kimia.

Itulah sebabnya, PT BOS-E yang didirikan 1 Juli 2019 di Sidoarjo ingin mengubah itu semua. Petani harus mengubah pola cara bertaninya. Dengan cara apa? Dengan cara bertani ala PT BOS-E yang sudah teruji 10 tahun lamanya di berbagai daerah di Indonesia. Terbukti, jika menggunakan pola pertanian ala PT BOS-E, petani bisa hidup lebih sejahtera. Selain hemat biaya, hasil produksinya bisa meningkat minimal 2 kal ilipat dari sebelumnya.

PT BOS-E ingin menjadi fasilitator bagi petani yang ingin maju. Berubah menjadi petani yang modern. Petani yang paham manajemen dan Teknologi Informasi.

Kalau petani sejahtera, kita bisa berharap mereka akan lebih bersemangat lagi mengelola lahan pertaniannya. Jika petani hidup lebih sejahtera, PT BOS-E berharap Indonesia tidak lagi kekurangan pangan. Jkalau bisa, ya tidak lagi impor pangan. Karena sangat ironis, negeri agraris harus impor pangan.

Untuk kita ketahui bersama, negara beriklim tropis seperti Indonesia ini di seluruh dunia hanya terdapat 27 Persen. Dan dari 27 Persen itu, yang 11 Persen adalah milik Indonesia.

Itu berarti, peluang Indonesia menjadi negara eskportir bahan pangan sangat terbuka lebar.

Peluang inilah yang akan disampaikan PT BOS-E kepada para petani di seluruh Indonesia. Bukan hanya petani padi, melainkan juga petani sayuran, kelapa sawit serta pemilik kebun buah-buahan. Kepada para peternak pun, peluang ini juga akan disampaikan.

Untuk itulah PT BOS-E akan memasyaratkan pola pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Caranya dengan menggabungkan aktivitas pertanian dengan peternakan. Jadi, kita ajari juga petani untuk beternak di sela-sela aktivitasnya bertani. Dengan cara itu, petani kita harapkan memiliki dua sumber penghasilan. Jika semula hanya dapat penghasilan dari lahan pertanian, setelah kenal dengan PT BOS-E, petani juga dapat penghasilan dari usaha peternakan.

Dengan pola pertanian berkelanjutan itulah PT BOS-E bisa membuat hidup dan masa depan para petani Indonesia lebih cerah dan sejahtera.

Kenapa petani juga harus juga beternak? Lahan pertanian butuh pupuk. Selama ini generasi petani di era Orde Baru hanya kenal pupuk kimia.

Itu sebabnya petani harus kita ajari beternak ayam, kambing atau sapi. Agar petani punya stok kohe (kotoran hewan) yang cukup untuk diolah menjadi pukan (pupuk kandang).

Cara membuat pupuk dari bahan dasar kohe inilah yang akan diajarkan PT BOS-E kepada petani. Agar, ke depan banyak petani yang memupuk sawahnya dengan Bokhasi (Bahan Organik Kaya Hara dan Nutrisi).

Kohe segar tidak bisa digunakan menjadi pupuk, karena mengandung patogen dan rawan mengundang jamur. Kohe harus diolah terlebih dahulu menjadi Bokhasi agar siap menjadi pengganti pupuk kimia yang sudah terbukti menyebabkan lahan pertanian di Indonesia miskin unsur hara. Pantas saja kalau produksi pertanian kita terus menurun dari tahun ke tahun. Akibat lanjutannya, untuk mencukupi kebutuhan pangan, Indonesia masih harus impor pangan. Juga impor daging ayam, sapi dan kerbau. Kabar terakhir, Indonesia juga akan mengimpor daging kambing. Lho, kenapa harus impor? Kenapa pemerintah tidak memberdayakan para petani dan peternak kita saja?

Di sini PT BOS-E akan mengambil peran. PT BOS-E akan menjadi fasilitator petani dan peternak Indonesia yang ingin berubah menjadi lebih maju. PT BOS-E ingin hidup dan masa depan petani dan peternak lebih sejahtera. Juga akan lebih sehat, karena mereka akan diajari bertani secara organik. Produk pertanian organik selain lebih sehat, harga jualnya juga lebih tinggi.

Dengan pola pertanian berkelanjutan yang juga dikenal dengan istilah mixed farming, PT BOS-E yakin bisa membantu pemerintah mencukupi kebutuhan beras, jagung, kedelai serta daging ayam, kambing dan sapi.

Untuk itu PT BOS-E juga siap bergandeng tangan dengan instansi pemerintah maupun swasta yang memiliki visi dan misi yang sama dengan PT BOS-E untuk menjalankan pola pertanian berkelanjutan ini.

Sudahlah, tidak bisa petani terus bergantung pada pupuk kimia. Sebagian pupuk itu harus dipenuhi sendiri oleh petani dengan pupuk organik yang dibuatnya sendiri. PT BOS-E akan mengajari petani untuk membuat pupuk sendiri. Dari bahan dasar kencing kambing dan sapi, petani juga akan kita ajari membuat pestisida dan fungsisida sendiri.

Sebab, harga pupuk kimia makin lama akan makin mahal. Karena bahan dasar pembuatan pupuk itu harus didatangkan dari luar negeri dan karenanya harus dibayar dengan hitungan dollar Amerika Serikat.

Lebih dari itu, pupuk, pestisida dan fungisida kimia sudah terbukti membuat lahan pertanian kita rusak, menjadi tidak subur lagi. Gara-gara pupuk kimia ini pula penyakit tanaman yang aneh-aneh muncul di negara kita. Karena musuh alami penyakit itu mati akibat pemakaian pupuk, pestisida dan fungsida serta herbisida kimia secara serampangan.

Menurut penelitian, kadar C-Organik lahan pertanian di Indonesia hanya tersisa 1 Persen saja.

Kadar C-Organik adalah “nyawanya” tanah. Pada tahun 1970, kadar C-Organik lahan pertanian kita ada di angka 2,5 Persen. Padahal, idealnya kadar C-Organik agar lahan pertanian bisa berproduksi optimal adalah 4,5 Persen.

Maka, PT BOS-E bertekad akan melibatkan sebanyak mungkin petani dan peternak untuk memproduksi pupuk dan pestisida dan fungisida organik. Tujuannya, agar kadar C-Organik lahan pertanian di Indonesia kembali meningkat.

Belum banyak juga yang tahu, bahwa penggunaan pupuk dan pestisida kimia menyebabkan derajat keasaman lahan pertanian otomatis menjadi menurun. Jadi, jangan berharap lahan pertanian yang asam akan menghasilkan produksi yang tinggi. Derajat keasaman (pH) lahan pertanian Indonesia saat ini rata-rata ada di angka 4. Padahal, idealnya pH tanah pertanian dan perkebunan minimal 6,5. Syukur kalau bisa menyentuh angka di atas 7.

Kalau persoalan lahan pertanian, perladangan dan perkebunan ini tidak segera kita atasi, bukan tidak mungkin Indonesia suatu saat akan kekurangan bahan pangan.

Itulah masalah kita bersama. Jadi, sudah seharusnyalah kalau masalah itu kita atasi bersama-sama. Mohon dukungannya semoga Program BOS-E berjalan dengan lancar.